Melangkah
Melangkah
Jejak
terlanjur terpacak.
Kamu
mesti kubur kamu punya luka. Nanti jadi duka, jadi murka. Malammu jadi
persinggahan terakhir bagi semua kawanan rindu yang telah lelah menggapai-gapai
apa yang tak tergapai. Diammu tidak akan menginfeksi udara. Jadi malam ini,
jangan kamu bersuara. Malam ini saja. Agar tiada tambah akut kamu punya luka.
Berjalan.
Berhenti. Berjalan lagi. Hidup adalah tentang keseimbangan. Tidakkah apa-apa
yang tersembunyi di depan membuatmu penasaran?
Jejak
terlanjur terpacak.
Terlalu
lama menengok ke belakang membuat lehermu pegal. Nafasmu tersengal. Kamu jadi
mudah lelah, jadi mudah gundah. Kamu perlu angkat kamu punya dagu. Tertunduk
layu itu tanda takut atau ragu. Dan aku tahu betul itu bukan sifatmu.
Jangan
juga sungkan untuk sesekali duduk. Selonjor atau bersila, pilih saja yang kamu
lebih suka. Asal jangan kamu jadi lupa.
Kecewa
takkan membuat esok pagimu jadi tak bernyawa. Coba, coba, dan coba.
Keseimbangan adalah tentang mencoba: menakar dan menerka. Tidak apa. Sesekali
kamu memang mesti menangis. Karena tidak semua gerimis berujung pelangi yang
manis.
Jejak
terlanjur terpacak.
Ada
bekas yang sudah tak bernafas. Takkan hilang sejauh apapun kamu coba buang.
Hanya akan jadi samar ditelan waktu: sedikit terlupakan. Ada luka, ada suka,
ada rindu, ada malu. Ada jumpa tak pernah kita lupa.
Kenanglah.
Kenang. Semua yang kini telah jadi bayang. Tapi jangan kamu habiskan energimu
hanya untuk itu. Karena ada hal lain yang lebih bijak dari pada mengenang:
membuat cerita baru yang lebih indah.


Komentar
Posting Komentar