Memeluk Malam dengan Bahagia
Malam ini terlalu pekat, dan hujan datang mengendap-endap menyambut sepi dalam waktu.
Ia lalu menari-nari dalam heningnya sanubari,
Mencipta jarak yang telah lama mati.
Pada satu genggaman jemari yang saling menarik,
Namaku dan namamu menjadi bait puisi-puisi sepi.
Melantunkan irama kesendirian, dan memenjarakan kebersamaan.
Dan Sepi kini diam, tak berkata apa-apa, seperti biasa.
Hingga kudengar lantunan nada nada suaramu mengalun
Dengan sekelumit rindu yang kau ucapkan.
Pelan.
Terucap pelan pada bibirmu yang kering.
Menggema mesra di balik gendang telinga.
Tiap kata tanpa bingkai merayu denyut nadi ini berdetak untukmu
Menggaris pelangi pada lengkungan senyum dibibir kita berdua.
Lihat, kita masih bisa saling memeluk bahagia,
Meski terkadang ragu menyelimut asa.
Berat, dalam napas yang berat
Kita berdua berusaha keras menepis ragu.
Biar kita berdua belajar bahagia dari ragu
Yang pergi perlahan.


Komentar
Posting Komentar